Proyek pengerjaan saluran air di Jalan Menara IV, RW 03, Kelurahan
Meruya Selatan, Kecamatan Kembangan dikeluhkan warga setempat. Sebab,
galian tanah proyek tersebut terkesan dibiarkan menumpuk di sepanjang
jalan.
Kondisi ini membuat jalan menjadi licin dan kotor
terutama saat diguyur hujan. Sedangkan, saat cuaca panas pun jalanan
menjadi berdebu hingga mengganggu penglihatan para pengendara.
Tak
hanya itu, timbunan tanah galian yang tak segera diangkut juga membuat
kemacetan cukup panjang. Parahnya lagi, di lokasi proyek sepanjang 500
meter itu tidak terdapat rambu lalu lintas.
Warga setempat,
Muhadi (54) menuturkan, proyek pengerjaan saluran air baru itu memang
sangat diidamkan-idamkan oleh warga setempat. Namun, pengerjaannya yang
terkesan asal jadi sangat dikeluhkan warga. "Sudah belasan tahun saluran
dari Jl Penyelesaian Tomang hingga ujung Jl Menara IV hanya setengahnya
dikerjakan," ujar Muhadi, Senin (11/11).
Dengan adanya
pengerjaan saluran ini, sambung Muhadi, warga sangat menyesalkan
lantaran para pekerja terkesan membiarkan tanah galian yang menumpuk di
sepanjang jalan tersebut. "Sekarang jalan jadi macet karena mengalami
penyempitan," ucap Muhadi.
Wakil Camat Kembangan, Edi Mulyanto
menuturkan, pihaknya sudah memberikan peringatan pada pemborong
pengerjaan saluran air tersebut. Peringatan itu dilakukan karena
banyaknya keluhan warga mengenai galian tanah yang dibiarkan di pinggir
jalan.
"Sesuai kewenangan, kami sudah memberi peringatan kepada
pemborong agar segera mengangkut tanah galian itu. Tapi nyatanya hingga
kini belum diangkut juga. Kami segera berkoordinasi dengan Sudin PU Tata
Air Jakarta Barat," tandasnya.
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Minggu, 17 November 2013
Lima Hari Hilang di Gunung Semeru, Dua Pendaki Ditemukan Selamat
Dua pendaki yang hilang di jalur pendakian Gunung Semeru yang memiliki
ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl) ditemukan dalam
kondisi selamat, namun salah satu pendaki mengalami patah kaki, demikian
seperti dikutp Antaranews.
"Kedua pendaki sudah dievakuasi ke Tawon Songo di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur," kata Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Ayu Dewi Utari, Selasa (12/11).
Sebelumnya, dua pendaki asal Jakarta bernama Aziz Fuadhi (21) dan M. Rifki Perdana (20) dilaporkan hilang saat melakukan pendakian ke Gunung Semeru pada Kamis (7/11) malam sekitar pukul 22.00 WIB.
Keduanya terpisah dengan rombongan saat turun dari puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa itu karena di tengah pendakian, Azis dan Rifki tidak mampu melanjutkan perjalanan dan berhenti di Cemoro Tunggal. Saat rombongan kembali, ternyata keduanya sudah tak ada.
"Petugas TNBTS bersama tim SAR langsung melakukan pencarian dan seorang pendaki bernama Azis kemudian ditemukan pada Minggu (10/11) pagi di jurang Blank yang memiliki kedalaman 75 meter dalam kondisi patah kaki dan dia sudah dievakuasi ke Tawon Songo pada Senin (11/11)," tuturnya,
Sedangkan Rifki juga sudah ditemukan dalam kondisi selamat pada Senin (11/11) dan tim SAR mengevakuasi yang bersangkutan ke Tawon Songo pada Selasa (12/11) siang sekitar pukul 13.00 WIB.
"Saat ditemukan, kondisi pendaki itu mengalami kelaparan dan kehausan, namun alhamdulilah dia tidak mengalami luka-luka," ucapnya.
Menurut Ayu, pihaknya menutup sementara jalur pendakian Semeru sejak dilakukan pencarian kedua pendaki yang hilang tersebut hingga kini karena TNBTS akan melakukan evaluasi atas peristiwa tersebut.
"Jalur pendakian ditutup sementara dan sudah tidak ada pendaki di sepanjang jalur pendakian gunung yang berada di perbatasan Lumajang dan Malang itu. Kami akan melakukan evaluasi terlebih dahulu, sebelum jalur pendakian kembali dibuka," paparnya.
Ia menyayangkan tindakan para pendaki yang nekat naik ke puncak Semeru (Mahameru), padahal pihaknya memberikan rekomendasi batas pendakian hingga di Kalimati karena berbahaya seiring dengan statusnya masih Waspada (Level II).
"Ternyata masih banyak pendaki yang melanggar aturan seperti rombongan kedua pendaki yang hilang tersebut," ujarnya.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan pendakian hingga Kalimati karena status Gunung Semeru masih Waspada, sehingga masyarakat atau pendaki tidak boleh melakukan aktivitas radius 4 kilometer dari Mahameru.
"Kedua pendaki sudah dievakuasi ke Tawon Songo di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur," kata Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Ayu Dewi Utari, Selasa (12/11).
Sebelumnya, dua pendaki asal Jakarta bernama Aziz Fuadhi (21) dan M. Rifki Perdana (20) dilaporkan hilang saat melakukan pendakian ke Gunung Semeru pada Kamis (7/11) malam sekitar pukul 22.00 WIB.
Keduanya terpisah dengan rombongan saat turun dari puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa itu karena di tengah pendakian, Azis dan Rifki tidak mampu melanjutkan perjalanan dan berhenti di Cemoro Tunggal. Saat rombongan kembali, ternyata keduanya sudah tak ada.
"Petugas TNBTS bersama tim SAR langsung melakukan pencarian dan seorang pendaki bernama Azis kemudian ditemukan pada Minggu (10/11) pagi di jurang Blank yang memiliki kedalaman 75 meter dalam kondisi patah kaki dan dia sudah dievakuasi ke Tawon Songo pada Senin (11/11)," tuturnya,
Sedangkan Rifki juga sudah ditemukan dalam kondisi selamat pada Senin (11/11) dan tim SAR mengevakuasi yang bersangkutan ke Tawon Songo pada Selasa (12/11) siang sekitar pukul 13.00 WIB.
"Saat ditemukan, kondisi pendaki itu mengalami kelaparan dan kehausan, namun alhamdulilah dia tidak mengalami luka-luka," ucapnya.
Menurut Ayu, pihaknya menutup sementara jalur pendakian Semeru sejak dilakukan pencarian kedua pendaki yang hilang tersebut hingga kini karena TNBTS akan melakukan evaluasi atas peristiwa tersebut.
"Jalur pendakian ditutup sementara dan sudah tidak ada pendaki di sepanjang jalur pendakian gunung yang berada di perbatasan Lumajang dan Malang itu. Kami akan melakukan evaluasi terlebih dahulu, sebelum jalur pendakian kembali dibuka," paparnya.
Ia menyayangkan tindakan para pendaki yang nekat naik ke puncak Semeru (Mahameru), padahal pihaknya memberikan rekomendasi batas pendakian hingga di Kalimati karena berbahaya seiring dengan statusnya masih Waspada (Level II).
"Ternyata masih banyak pendaki yang melanggar aturan seperti rombongan kedua pendaki yang hilang tersebut," ujarnya.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan pendakian hingga Kalimati karena status Gunung Semeru masih Waspada, sehingga masyarakat atau pendaki tidak boleh melakukan aktivitas radius 4 kilometer dari Mahameru.
Macet Parah Lalu Lintas Kawasan Menteng
Adanya genangan air di Tugu Tani, Jakarta Pusat berdampak pada lalu
lintas di sekitarnya. Hal ini diakibatkan karena hujan deras sore tadi
menjelang jam pulang kerja.
"Sepertinya ada genangan di daerah Tugu Tani sekitar Cikini juga," kata Amir, pengendara motor kepada Berita8.com, Rabu (13/11/2013).
Amir menambahkan, dirinya melewati Jalan Jaksa menuju Jalan Imam Bonjol sekitar kawasan Menteng tidak bergerak. Meski dirinya mengendarai roda dua.
"Saya pakai motor aja berhenti apalagi pakai mobil mas," tukasnya.
"Sepertinya ada genangan di daerah Tugu Tani sekitar Cikini juga," kata Amir, pengendara motor kepada Berita8.com, Rabu (13/11/2013).
Amir menambahkan, dirinya melewati Jalan Jaksa menuju Jalan Imam Bonjol sekitar kawasan Menteng tidak bergerak. Meski dirinya mengendarai roda dua.
"Saya pakai motor aja berhenti apalagi pakai mobil mas," tukasnya.
Banjir di Ciledug Indah Kota Tangerang Renggut Dua Korban Jiwa
Banjir yang menggenangi sejumlah pemukiman di Kota Tangerang, Banten, sejak kemarin telah menyebabkan dua orang meninggal dunia.
Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Tangerang Iksan Bhakti di Tangerang, melaporkan, ada dua orang yang dilaporkan meninggal akibat bencana banjir kemarin di beberapa perumahan Kota Tangerang. Jumat (15/11).
Ratna (63), warga Perumahan Ciledug Indah 1 RT 03/05, meninggal karena serangan jantung saat akan dievakuasi ketika banjir melanda.
Sementara Sukamto (61), warga Ciledug Indah 2, meninggal dunia karena terpeleset saat membersihkan rumahnya setelah banjir surut.
Banjir yang melanda sejumlah perumahan di Kota Tangerang sekarang sudah surut dan menyisakan sampah-sampah.
Meski demikian, Tagana telah menyiapkan personel dan peralatan untuk antisipasi banjir susulan.
Mengingat intensitas hujan di Bogor masih tinggi, Tagana Kota Tangerang tetap menyiagakan 120 personel dibantu 40 orang sayap tagana.
Peralatan mulai dari perahu, genset, dan lampu penerangan pun telah disiapkan. "Kita masih siaga di lokasi," katanya.
Indra, suami dari Ratna menjelaskan bahwa istrinya memang memiliki penyakit jantung. Ketika banjir tiba, istrinya kaget. "Dia kaget ketika dilakukan evakuasi saat banjir datang," katanya.
Berdasarkan data, banjir telah melanda tujuh titik di Kota Tangerang di antaranya Ciledug Indah 1 dan 2, Pedurenan, Petir, Gondrong, Pondok Bahar.
Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Tangerang Iksan Bhakti di Tangerang, melaporkan, ada dua orang yang dilaporkan meninggal akibat bencana banjir kemarin di beberapa perumahan Kota Tangerang. Jumat (15/11).
Ratna (63), warga Perumahan Ciledug Indah 1 RT 03/05, meninggal karena serangan jantung saat akan dievakuasi ketika banjir melanda.
Sementara Sukamto (61), warga Ciledug Indah 2, meninggal dunia karena terpeleset saat membersihkan rumahnya setelah banjir surut.
Banjir yang melanda sejumlah perumahan di Kota Tangerang sekarang sudah surut dan menyisakan sampah-sampah.
Meski demikian, Tagana telah menyiapkan personel dan peralatan untuk antisipasi banjir susulan.
Mengingat intensitas hujan di Bogor masih tinggi, Tagana Kota Tangerang tetap menyiagakan 120 personel dibantu 40 orang sayap tagana.
Peralatan mulai dari perahu, genset, dan lampu penerangan pun telah disiapkan. "Kita masih siaga di lokasi," katanya.
Indra, suami dari Ratna menjelaskan bahwa istrinya memang memiliki penyakit jantung. Ketika banjir tiba, istrinya kaget. "Dia kaget ketika dilakukan evakuasi saat banjir datang," katanya.
Berdasarkan data, banjir telah melanda tujuh titik di Kota Tangerang di antaranya Ciledug Indah 1 dan 2, Pedurenan, Petir, Gondrong, Pondok Bahar.
19 Titik di Jakut Rawan Banjir, Tiga RW di Jaksel Masih Terendam
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta telah melakukan
pemetaan kawasan rawan banjir di lima wilayah Ibu Kota. Setidaknya, ada
62 titik rawan banjir di Jakarta yang harus dipantau. Titik rawan banjir
paling banyak terdapat di wilayah Jakarta Utara dengan 19 titik.
"Dari pemetaan tercatat ada 62 titik rawan banjir di Jakarta," kata Danang Susanto, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DKI , Jumat (15/11).
Dikatakan Danang, pemetaan itu dilakukan guna meningkatan dan mempercepat penanganan bencana banjir di Jakarta. Dengan mengetahui titik-titik rawan banjir tersebut, menurut Danang, BPBD DKI dapat melakukan pencegahan bencana banjir, seperti persiapan sumber daya manusia (SDM), logistik, dan sarana prasarana.
Hingga sore ini banjir sebagian besar berada di wilayah Jakarta Selatan. Wilayah Kecamatan Kebayoran Lama dan Kelurahan Pondok Pinang ada tiga RW yang masih tergenang, yakni RW 08, RW 05, dan RW 01.
Untuk RW 08, dua RT, yaitu RT 03 dan RT 04 masih tergenang air setinggi 40 cm. Untuk di RW 05, dua RT, yakni RT 15 dan RT 16 tergenang setinggi 60 cm. Sedangkan wilayah RT 02 RW 01 masih tergenang air setinggi 10 cm.
Wilayah lainnya yang masih tergenang adalah Kelurahan Ulujami, Kecamatan Pesanggrahan. Di RT 17 RW 03, genangan masih merendam setinggi 100 cm. Sementara di RT 19, genangan air setinggi 120 cm.
"Dari pemetaan tercatat ada 62 titik rawan banjir di Jakarta," kata Danang Susanto, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DKI , Jumat (15/11).
Dikatakan Danang, pemetaan itu dilakukan guna meningkatan dan mempercepat penanganan bencana banjir di Jakarta. Dengan mengetahui titik-titik rawan banjir tersebut, menurut Danang, BPBD DKI dapat melakukan pencegahan bencana banjir, seperti persiapan sumber daya manusia (SDM), logistik, dan sarana prasarana.
Hingga sore ini banjir sebagian besar berada di wilayah Jakarta Selatan. Wilayah Kecamatan Kebayoran Lama dan Kelurahan Pondok Pinang ada tiga RW yang masih tergenang, yakni RW 08, RW 05, dan RW 01.
Untuk RW 08, dua RT, yaitu RT 03 dan RT 04 masih tergenang air setinggi 40 cm. Untuk di RW 05, dua RT, yakni RT 15 dan RT 16 tergenang setinggi 60 cm. Sedangkan wilayah RT 02 RW 01 masih tergenang air setinggi 10 cm.
Wilayah lainnya yang masih tergenang adalah Kelurahan Ulujami, Kecamatan Pesanggrahan. Di RT 17 RW 03, genangan masih merendam setinggi 100 cm. Sementara di RT 19, genangan air setinggi 120 cm.
Jakarta Masih Banjir, Jokowi Berencana Panjat Monas
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo berencana memanjat monumen nasional
(Monas) pada 8 Desember mendatang. Jika tidak ada halangan, aksi ini
akan dilakukan bersama Sabar Gorki (45) atlet panjat tebing berprestasi
internasional.
Jokowi -sapaan akrabnya, mengaku tidak asing dengan dunia panjat-memanjat. Sebab, dia berpengalaman mendaki gunung. Namun, kata Jokowi, teknik mendaki gunung berbeda dengan memanjat Monas. Meski demikian, Jokowi merasa memiliki basic memanjat. "Tapi itu dulu, waktu masih muda," katanya di Balaikota, kemarin.
Adapun pendampingnya, Sabar Gorky, sudah tidak diragukan lagi sebagai pemanjat tebing. Sejumlah rekor memanjat pun telah ia torehkan. Terakhir, Sabar mengikuti ajang memanjat internasional, IFSC World Climbing Championship di Paris pada 2012 lalu. Di kejuaraan tersebut Sabar menempati posisi keempat
Diakui Sabar, dirinya memilih Monas karena merupakan ikon Jakarta. Pria yang kehilangan kaki kanannya akibat jatuh dari kereta ini berpendapat, kegiatannya sebagai bentuk dukungan dan semangat kepada warga Jakarta. Selain itu dirinya juga ingin bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. "Saya minta izin, nanti 8 Desember mau manjat Monas. Alhamdulillah diizinkan sama Pak Jokowi," kata Sabar.
Di lain sisi, pada bulan Desember mendatang, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagai puncak musim penghujan. Untuk mencegah Jakarta kembali tenggelam, Pemprov DKI mulai melakukan berbagai persiapan.
"Oktober sampai November sudah mulai hujan sedikit-sedikit. Gedenya bulan Desember dan Januari," ujar Gubernur Jokowi di Balai Kota Jakarta, Jumat (27/9) lalu.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Provinsi DKI Jakarta, Jumat 15, s/d Sabtu, 16/11/2013 dari pukul 22.30 WIB s/d pukul 08.00 WIB, sejumlah lokasi masih tergenang.
Wilayah yang tergenang terdapat di 3 Kecamatan ; 4 Kelurahan ; 15 RW ; 64 RT ; 1.506 KK ; 4. 142 Jiwa terkena dampak genangan.
Adapun sebaran wilayahnya dan perinciannya adalah ;
JAKARTA TIMUR :
Kec. Jatinegara : Kel. Kp. Melayu, Genangan 30 รข€“ 70 cm
Jumlah : 7 RW, 36, RT, 952 KK, 2.620 Jiwa,
Radius 15 meter dri bantaran kali, Pengungsi nihil
Kel. Bidara Cina, genangan 10-40 cm
Jumlah : 5 RW, 17 RT, 325 KK, 1.120 Jiwa, Pengungsi nihil
JAKARTA SELATAN :
Kec. Kemayoran Lama, Kel. Pondok Pinang, genangan 10 cm
Jumlah : 1 RW, 8 RT, 44 KK, 175 Jiwa, Pengungsi nihil
JAKARTA BARAT :
Kec. Kembangan, Kel. Kembangan Utara, genangan 10 cm
Jumlah : 2 RW, 3 RT, 85 KK, 227 Jiwa, Pengungsi nihil.
Jokowi -sapaan akrabnya, mengaku tidak asing dengan dunia panjat-memanjat. Sebab, dia berpengalaman mendaki gunung. Namun, kata Jokowi, teknik mendaki gunung berbeda dengan memanjat Monas. Meski demikian, Jokowi merasa memiliki basic memanjat. "Tapi itu dulu, waktu masih muda," katanya di Balaikota, kemarin.
Adapun pendampingnya, Sabar Gorky, sudah tidak diragukan lagi sebagai pemanjat tebing. Sejumlah rekor memanjat pun telah ia torehkan. Terakhir, Sabar mengikuti ajang memanjat internasional, IFSC World Climbing Championship di Paris pada 2012 lalu. Di kejuaraan tersebut Sabar menempati posisi keempat
Diakui Sabar, dirinya memilih Monas karena merupakan ikon Jakarta. Pria yang kehilangan kaki kanannya akibat jatuh dari kereta ini berpendapat, kegiatannya sebagai bentuk dukungan dan semangat kepada warga Jakarta. Selain itu dirinya juga ingin bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. "Saya minta izin, nanti 8 Desember mau manjat Monas. Alhamdulillah diizinkan sama Pak Jokowi," kata Sabar.
Di lain sisi, pada bulan Desember mendatang, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagai puncak musim penghujan. Untuk mencegah Jakarta kembali tenggelam, Pemprov DKI mulai melakukan berbagai persiapan.
"Oktober sampai November sudah mulai hujan sedikit-sedikit. Gedenya bulan Desember dan Januari," ujar Gubernur Jokowi di Balai Kota Jakarta, Jumat (27/9) lalu.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Provinsi DKI Jakarta, Jumat 15, s/d Sabtu, 16/11/2013 dari pukul 22.30 WIB s/d pukul 08.00 WIB, sejumlah lokasi masih tergenang.
Wilayah yang tergenang terdapat di 3 Kecamatan ; 4 Kelurahan ; 15 RW ; 64 RT ; 1.506 KK ; 4. 142 Jiwa terkena dampak genangan.
Adapun sebaran wilayahnya dan perinciannya adalah ;
JAKARTA TIMUR :
Kec. Jatinegara : Kel. Kp. Melayu, Genangan 30 รข€“ 70 cm
Jumlah : 7 RW, 36, RT, 952 KK, 2.620 Jiwa,
Radius 15 meter dri bantaran kali, Pengungsi nihil
Kel. Bidara Cina, genangan 10-40 cm
Jumlah : 5 RW, 17 RT, 325 KK, 1.120 Jiwa, Pengungsi nihil
JAKARTA SELATAN :
Kec. Kemayoran Lama, Kel. Pondok Pinang, genangan 10 cm
Jumlah : 1 RW, 8 RT, 44 KK, 175 Jiwa, Pengungsi nihil
JAKARTA BARAT :
Kec. Kembangan, Kel. Kembangan Utara, genangan 10 cm
Jumlah : 2 RW, 3 RT, 85 KK, 227 Jiwa, Pengungsi nihil.
Sehari, 75 Mobil Baru Sumbang Kemacetan di Jakarta
Kemacetan lalulintas di DKI Jakarta tak bisa dilepaskan dari penambahan
kendaraan bermotor. Berdasarkan data Direktorat Lalu Lintas Polda Metro
Jaya setidaknya terdapat 75 unit permohonan kepemilikan baru.
"Dari data yang didapat, untuk pemohon pengajuan mobil baru ada 75 unit per harinya," kata Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Sambodo, Sabtu (16/11).
Sambodo mencatat, peningkatan jumlah kendaraan terjadi selama tiga tahun terakhir. Pada tiga tahun lalu jumlah kendaraan untuk wilayah Ibukota tercatat sebanyak 11 juta unit. Saat ini, jumlah kendaraan yang terdaftar di Polda Metro Jaya mencapai sekitar 15 juta unit.
"Pertumbuhannya cukup pesat, tapi tak diimbangi dengan pertumbuhan jalan yang signifikan," kata Sambodo.
Menurut Sambodo, peningkatan jumlah kendaraan baru tidak sejalan dengan pertumbuhan jalan yang setiap tahunnya hanya bertambah 0,01 persen. Saat ini, panjang jalan di Jakarta tercatat 7.650 kilometer dan luas jalan 40,1 persen.
"Jadi kemacetan yang parah akhir-akhir ini bukan dari sterilisasi (busway), tapi jumlah kendaraan dan perjalanan di Jakarta semakin meningkat," jelasnya. (ag)
"Dari data yang didapat, untuk pemohon pengajuan mobil baru ada 75 unit per harinya," kata Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Sambodo, Sabtu (16/11).
Sambodo mencatat, peningkatan jumlah kendaraan terjadi selama tiga tahun terakhir. Pada tiga tahun lalu jumlah kendaraan untuk wilayah Ibukota tercatat sebanyak 11 juta unit. Saat ini, jumlah kendaraan yang terdaftar di Polda Metro Jaya mencapai sekitar 15 juta unit.
"Pertumbuhannya cukup pesat, tapi tak diimbangi dengan pertumbuhan jalan yang signifikan," kata Sambodo.
Menurut Sambodo, peningkatan jumlah kendaraan baru tidak sejalan dengan pertumbuhan jalan yang setiap tahunnya hanya bertambah 0,01 persen. Saat ini, panjang jalan di Jakarta tercatat 7.650 kilometer dan luas jalan 40,1 persen.
"Jadi kemacetan yang parah akhir-akhir ini bukan dari sterilisasi (busway), tapi jumlah kendaraan dan perjalanan di Jakarta semakin meningkat," jelasnya. (ag)
Minggu, 01 September 2013
Mengapa Jumlah Pengangguran Di Indonesia Makin Banyak?
1. Faktor Pertama berhubungan dengan Krisis GLOBAL yang mendera Para Pemilik Bisnis atau Perusahaan. Ini
merupakan faktor tidak langsung yang menyebabkan banyak angkatan kerja
yang sebenarnya sudah siap kerja terpaksa harus menganggur, karena pihak
perusahaan memilih strategi rasionalisasi dan efisiensi sumber daya
manusia yang mereka pekerjakan di perusahaan mereka. Jadilah jumlah
pengangguran di Indonesia bertambah, karena tidak terserap lapangan
kerja.
2. Faktor Kedua berhubungan dengan Gap antara Kesempatan Kerja dan Jumlah Angkatan Kerja yang tinggi. Sekarang
ini bisa dibayangkan, begitu banyaknya mahasiswa-mahasiswi yang menjadi
wisudawan dari berbagai kampus di Indonesia. Tentunya jumlahnya tidak
sedikit. Mereka ini termasuk dalam Angkatan Kerja atau Manusia2 yang
siap kerja. Sayangnya, jumlah ini tidak berbanding lurus atau balanced
dengan jumlah kesempatan kerja. Jadinya, bisa diamati sendiri, fakta
dilapangan menyebutkan bahwa satu pekerjaan saja, diperlombakan oleh
seribu calon pelamar kerja. Apa gak edan.. hiiiii... ngeri.. Just kidding lagi.. hehe.. temen2 bisa bayangin sendiri kok.
3. Pendidikan di Indonesia itu tidak efektif. Kenapa dikatakan tidak efektif? Karena
yang ditekankan pada manusia didiknya hanyalah nilai di atas kertas,
alias pengetahuan teoritis. Padahal di dunia kerja yang dibutuhkan
tenaganya adalah calon2 tenaga kerja yang memiliki skill, bisa juga kita
sebut life skill atau mungkin keterampilan. Misalnya saja seperti
keterampilan menggunakan aplikasi akutansi yang berkenaan dengan
administrasi perusahaan, tentunya bagi mereka yang ingin bekerja di
kantoran. Atau juga misalnya keterampilan memasak, kalau tertarik
menjadi seorang koki di Hotel. Jadi jangan diherani kalau banyak
pengusaha yang memutuskan tidak memberikan lapangan pekerjaan pada
mereka2 yang tidak memiliki skill.
4.
Pendidikan di Indonesia Tidak Membentuk Manusia Creative, yang ada
adalah membentuk manusia-manusia pasive yang berujung pada kepasrahan. Ini
bukan untuk meledek sistem pendidikan di Indonesia. This is real, lihat
aja pada kenyataannya, sekolah ini mendidik manusia2 yang siap jadi
pekerja, tapi tidak mendidik mereka memiliki daya kreasi untuk
menciptakan kerja atau dalam istilah lain menjadi pengusaha. Coba saja
tanyakan pada diri masing pribadi, untuk apa kita sekolah? Sebagian
besar pasti menjawab, Ya biar lulus nanti dapat kerja. Nah di sinilah
letak kesalahan konsep pendidikan Indonesia. Kapan majunya kalau kayak
gini? Mungkin kita patut mencontoh singapura, yang menghasilkan insan2
berotak pengusaha. Olehnya itu lewat tulisan ini, semoga juga dibaca
oleh para PEJABAT NEGARA, agar kiranya memperhatikan aspek ini saat
merancang konsep pendidikan Indonesia kedepannya. Kalau aspek ini sudah
diperhatikan, insyaAllah kita gak bakalan lihat lagi, orang2 yang lebih
menganggur dan pasrah, sebaliknya kita akan lihat banyak pengusaha2
Indonesia yang kian maju dan berkembang jumlahnya.
Mengapa Harus Bayar Pajak?
Mengapa Harus Bayar Pajak?
Karena
pajak timbul sebagai konsekuensi logis hidup di suatu negara. Di mana
ada negara di situ ada pajak. Negara membutuhkan sumber penerimaan untuk
membiayai pengeluarannya, salah satu sumbernya yaitu pajak. Pajak
merupakan sumber pemasukan keuangan negara yang kemudian dialokasikan
untuk membiayai pengeluaran rutin negara melalui Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN).
Dalam
perkembangan zaman, negara membutuhkan sejumlah uang untuk pembiayaan
operasional pemerintahan yang akan dibiayai dari iuran. Pemerintahan
timbul karena penduduk suatu negara yang sepakat membentuk negara
melalui ikatan kesamaan kepentingan yaitu perlu keamanan dan kenyamanan
dalam masyarakat. Keamanan, untuk membayar tentara yang menjaga
kedaulatan negara dan polisi yang menjaga ketertiban di masyarakat.
Kenyamanan, untuk pembiayaan fasilitas umum. Lalu rakyat sepakat mau
membayar pungutan (restribusi) paksa yang dinamakan pajak melalui
undang-undang untuk kelangsungan keamanan dan kenyaman dalam
berkehidupan di negara. Jadi pajak mesti dibayar karena merupakan iuran
wajib dengan adanya kesepakatan antar individu agar negara diberi
kewenangan memungut pajak melalui undang-undang.
Apa saja komponen utama pengeluaran negara sehingga perlu memungut pajak?
Komponen
APBN yaitu belanja gaji pegawai negeri, TNI dan POLRI, belanja
barang/jasa, belanja modal, belanja utang/bunga, belanja subsidi,
bantuan sosial dan bantuan lain-lain. Belanja tersebut timbul dalam
rangka menjalankan fungsi negara, pegawai negeri melayani masyarakat,
guru melayani kebutuhan pendidikan anak usia sekolah, TNI menjaga
keamanan negara dari serangan musuh, POLRI menjaga keamanan dan
ketertiban masyarakat. Belanja barang dan modal untuk merawat dan atau
menyediakan fasilitas umum, jalan, jembatan, gedung-gedung pemerintah,
sekolah dll.
Mungkinkah masyarakat suatu negara tidak perlu lagi membayar pajak?
Mungkin
saja, asal negara mampu mencukupi pengeluarannya dalam rangka mengelola
negara dari sumber dana non pajak, misalkan dari kekayaan alam yang
dimilikinya.
Adakah negara yang bebas pajak?
Tidak
ada negara yang sama sekali bebas pajak, 100% bebas pungutan oleh
negara. Namun ada negara dengan tarif pajak yang rendah atau dikenal tax haven country.
Siapa yang paling beruntung jika tidak perlu bayar pajak?
Adalah
mereka yang memanfaatkan paling kaya artinya mereka itu yang paling
banyak eksploitasi sumber daya alam, dan menggunakan fasilitas umum.
Pajak yang dipungut negara dari orang kaya akan didistribusikan untuk
membiayai kepentingan publik, pembangunan fasilitas publik sehingga
menciptakan lapangan kerja baru. Dengan adanya kesempatan kerja maka
pendapatan terdistribusi pula yang pada akhirnya distribusi pendapatan
masyarakat akan merata, kesenjangan antara kaya dan miskin berkurang.
Siapa yang paling rugi jika tidak perlu bayar pajak?
Adalah
mereka yang tidak punya kesempatan ikut serta dalam kegiatan ekonomi
dan tidak punya penghasilan, karena tidak adanya pajak maka distribusi,
pemerataan pendapatan tidak ada, dan kesenjangan antara yang kaya dan
miskin semakin besar.
Apa fungsi pajak?
- Pajak adalah sumber penerimaan negara kemudian digunakan untuk pembiayaan/pengeluaran rutin negara;
- Pajak digunakan untuk pembiayaan fasilitas umum;
- Pajak sebagai alat pengatur (regulasi) atau mencapai tujuan –tujuan tertentu. Misalkan membebani pajak pada barang mewah tertentu untuk mengurangi laju konsumsi;
- Pajak untuk stabilitas harga dan konsumsi dengan menaikkan atau menurunkan tarif pajak atas barang tertentu.
- Sarana untuk berbagi pada sesama makhluk, karena hidup di dunia yang sama, pemerataan pendapatan. Sebagian uang pajak digunakan untuk menjaga kelestarian alam yang telah memberikan manfaat pada manusia.
Pengendalian Sosial
PENGENDALIAN SOSIAL
(SOCIAL CONTROL)
Akhir-akhir ini sering kita membaca, mendengar dan melihat banyak terjadi kasus penyimpangan di masyarakat. Pembunuhan, mutilasi, pemerkosaan, penipuan, narkoba dan sebagainya, selalu menjadi berita utama di media massa. Masyarakat semakin dibuat resah dengan berbagai peristiwa tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan, baik secara preventif maupun represif, untuk mengendalikan berbagai penyimpangan yang terjadi di masyarakat.
Berbagai analisa bergulir terhadap terjadinya sebuah kasus, tetapi terkadang tindakan solutif dan preventif tidak terealisasi. Artinya, penyimpangan sosial tetap menjadi tontonan dan momok bagi masyarakat. Timbul pertanyaan, mengapa banyak terjadi penyimpangan sosial?
Bisakah terbentuk sebuah masyarakat tanpa penyimpangan?
Upaya untuk mengantisipasi dan memberikan solusi terhadap penyimpangan sosial dikenal dengan pengendalian sosial (social control).
Pengendalian sosial merupakan sebuah proses yang direncanakan atau tidak direncanakan dengan tujuan mengajak, membimbing, bahkan memaksa masyarakat agar mematuhi nilai-nilai atau aturan-aturan yang berlaku, atau dengan kata lain pengendalian sosial merupakan tindakan pengawasan terhadap perilaku anggota masyarakat agar tidak melakukan penyimpangan.
Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa lepas dari orang lain. Interkasi sosial merupakan bentuk dari hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Dalam berinteraksi tersebut tidak jarang timbul masalah, misalnya terjadi beda pendapat, salah paham, berselisih dam kemudian berkelahi.
Adu fisik terkadang dianggap sebagai alternatif penyelesaian masalah, padahal kenyataannya justru menambah masalah baru. Benar tidak ? Pernahkah kalian berbuat seperti itu? Bagaimana sikap kita jika timbul masalah dengan orang lain? Tentunya kita semua berharap masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan akan kembali pada situasi dan kondisi semula, sehingga akan terwujud suatu keseimbangan sosial (social equilibrium).
Hal penting yang perlu diperhatikan, bahhwa untuk menciptakan keseimbangan sosial tersebut diperlukan upaya-upaya menghilangkan penyimpangan-penyimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Perhatikan gambar berikut ini. Gambar disamping adalah pihak keamanan atau kepolisian yang merupakan salah satu agen dalam pengendalian sosial, dimana kepolisian memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menghilangkan berbagai bentuk penyimpangan di masyarakat dengan tujuan terciptanya keamanan dan ketertiban dalam masyarakat.
A. DEFINISI PENGENDALIAN SOSIAL
Social control
atau pengendalian sosial adalah sesuatu yang nyata dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk upaya untuk menciptakan kondisi yang mereka inginkan. Ada beberapa pendapat tentang definisi pengendalian sosial, antara lain:
Astrid S. Susanto mengemukakan, bahwa pengendalian sosial adalah kontrol yang bersifat psikologis dan nonfisik karena merupakan “tekanan mental” terhadap individu sehingga individu akan bersikap dan bertindak sesuai dengan penilaian dalam kelompok tersebut.
Joseph Roucek mengemukakan bahwa pengendalian sosial merupakan segala proses, baik yang direncanakan maupun tidak direncanakan yang bersifat mendidik, mengajak, atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi kaidah/norma/aturan yang berlaku di masyarakat.
Menurut Berger, pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkananggotanya yang membangkang.
Karel Veeger
mendefinisikan pengendalian sosial sebagai kelanjutan dari proses sosialisasi dan berhubungan dengan cara-cara dan metode-metode yang dipergunakan untuk mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan kehendak kelompok atau masyarakat, yang jika dijalankan secara efektif, perilaku individu akan konsisten dengan tipe perilaku yang diharapkan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa upaya untuk mewujudkan kondisi seimbang didalam masyarakat disebut pengendalian sosial (Social Control).
Menurut Koentjaraningrat
, ada tiga proses sosial yang perlu mendapat pengendalian sosial, yaitu:1.Ketegangan sosial yang terjadi antara adat-istiadat dan kepentingan individu.2.Ketegangan sosial yang terjadi karena adanya pertemuan antar golongan khusus.3.Ketegangan sosial yang terjadi karena golongan yang melakukan penyimpangan secara sengaja menentang tata kelakuan atau peraturan.
B. JENIS PENGENDALIAN SOSIAL
Siapa saja yang terlibat dalam pengendalian sosial? Berdasarkan pihak yang melakukan pengendalian soaial, jenis-jenis pengendalian sosial terdiri dari:
1.Pengendalian individu terhadap individu lain.
Hal ini terjadi jika individu melakukan pengawasan terhadap individu lain, baik disadari maupun tidak. Contohnya:Guru yang menasehati muridnya yang berbuat kesalahan Amir menyuruh adiknya agar berhenti berteriak-teriak. Tono mengawasi adiknya agar tidak berkelahi.
2.Pengawasan individu dengan kelompok.
Guru mengawasi ujian di kelas. Polisi mengatur lalu lintas. Bapak memerintah anak-anaknya untuk segera belajar dari pada ribut terus.Dari contoh di atas guru, polisi, dan bapak sebagai individu yang melakukan pengendalian sosial terhadap kelompok individu, yaitu murid, pengguna jalan dan anak-anak.
3.Pengawasan kelompok dengan individu.
Bapak dan Ibu Nabil selalu mengontrol perilaku anak tunggalnya. Kawanan massa menghajar seorang pencopet. Tim gabungan polisi yang menangkap seorang pengedar narkobaDari contoh di atas Bapak dan Ibu, kawanan massa , dan tim gabungan polisi merupakan kelompok pengendali sosial terhadap seorang individu, yaitu anak tunggal, seorang pencopet, dan pengedar narkoba.
4.Pengawasan antar kelompok.
Contoh: Pengawasan oleh KPK kepada DPRDua perusahaan yang melakukan joint venture (patungan) selalu melakukan saling pengawasan. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memeriksa Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Dua atau lebih negara berkembang bergabung dalam pengawasan peredaran obat-obatan terlarang. Dari contoh di atas, KPK, kelompok orang dalam perusahaan, BPK dan Negara yang mengawasi atau sebagai pengendali sosial kelompok lain yaitu DPR, perusahaan, Depdiknas dan negara berkembang.
C. SIFAT PENGENDALIAN SOSIAL
Bagaimana masyarakat melakukan pengendalian sosial terhadap perilaku anggotanya? Ada dua sifat yang dipakai dalam pengendalian sosial, yaitu :
1.Preventif: yaitu pengendalian sosial yang dilakukan sebelum terjadi pelanggaran
, artinya mementingkan pada pencegahan agar tidak terjadi pelanggaran. Contoh: Seoarang bapak menasehati anaknya agar tidak merokok Untuk mencegah anaknya berkelahi Ibu Amir menyuruh anak-anaknya tidak bermain di luar rumah. Tidak bosan-bosannya guru menasehati murid-muridnya untuk segera pulang dan tidak nongkrong-nongkrong dulu di jalanan; untuk menghindari terjadinya tawuran pelajar, merokok atau terlibat narkoba.
2.Represif: adalah pengendalian sosial yang dilakukan setelah orang melakukan suatu tindakan penyimpangan (deviasi). Pengendalian sosial ini bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti sebelum terjadinya tindakan penyimpangan.Contoh pengendalian represif yang betul, misalnya : Pemberian hukuman bagi seseorang yang melakukan pelanggaranHakim menjatuhkan hukuman kepada terpidana. Pak Darmawan di PHK karena korupsi.
D. TEKNIK PENGENDALIAN SOSIAL
Kita sering mendengar, membaca dan melihat banyaknya penyimpangan yang terjadi di masyarakat. Terjadinya tawuran antara kelompok masyarakat yang kadang-kadang berbau SARA (Suku, Agama, Ras, Antar golongan), pembunuhan, perampokan, kasus narkoba dan lain-lain. Dengan berbagai peristiwa tersebut, apakah yang bisa kita lakukan? Bagaimana cara pengendalian sosial yang sebaiknya dilakukan kelompok masyarakat tersebut? Bagaimana cara Anda mengatasinya bila itu terjadi di lingkungan Anda? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan reflektif yang mengingatkan kita sebagai mahluk sosial.Bila dilihat dari segi cara pengendaliannya, dapat dikelompokkan dalam beberapa cara/teknik, yaitu:
a. Persuasif
Persuasif merupakan cara pengendalian tanpa kekerasan. Cara pengendalian lebih menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing anggota masyarakat agar dapat bertindak sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku di masyarakat, terkesan halus dan berupa ajakan atau himbauan. Contoh:
1. Tokoh masyarakat membina warganya yang bertikai agar selalu hidup rukun, menghargai sesama, mentaati peraturan, dan menjaga etika pergaulan..
2.Seorang ibu dengan penuh kasih sayang menasehati anaknya yang ketahuan mencuri. Ibu itu berusaha memberi pengertian pada anaknya bahwa mencuri itu perbuatan yang tercela dosa dan sangat merugikan orang lain. Mencuri itu akan berakibat buruk pada kehidupannya kelak. Ia akan menjadi orang terkucil dan tersingkir dari masyarakat.
3. Guru membina dan menasehati muridnya yang ketahuan merokok di sekolah. Dengan penuh kewibawaan dan kesabaran guru tersebut menanamkan pengertian bahwa merokok itu merusak kesehatan, merugikan orang lain, dan juga merupakan pemborosan.
b. Koersif
Cara koersif lebih menekankan pada tindakan atau ancaman yang menggunakan
kekerasan fisik. Tujuan tindakan ini agar si pelaku jera dan tidak melakukan perbuatan buruknya lagi. Jadi terkesan kasar dan keras. Cara ini hendaknya merupakan upaya terakhir sesudah melakukan cara persuasif, contoh:
1. Massa menghajar perampas sepeda motor agar jera. Tindakan tersebut sebenarnya dilarang secara hukum, karena telah main hakim sendiri. Namun cara tersebut dilakukan masyarakat dengan maksud agar para perampas sepeda motor lainnya takut untuk berbuat serupa.
2. Penerapan hukuman mati bagi pelaku kejahatan. Hal ini dilakukan agar para pelaku kejahatan atau orang yang akan berniat jahat menjadi takut untuk melakukan tindak kejahatan.
3.Orang tua yang menjewer telinga anaknya yang nakal. Hal ini dilakukan dengan harapan anaknya tidak melakukan kesalahan lagi.
E. CARA DAN BENTUK PENGENDALIAN SOSIAL
Robert M.Z Lawang
mengemukakan beberapa cara dan bentuk pengendalian sosial yang biasanya dilakukan orang dalam suatu masyarakat untuk mengontrol perilaku orang lain yang menyimpang, antara lain:
1.Desas-desus (Gosip), yaitu “kabar burung” atau “kabar angin” yang kebenarannya sulit dipercaya. Namun dalam masyarakat pengendalian sosial ini sering terjadi. Gosip sebagai bentuk pengendalian sosial yang diyakini masyarakat mampu untuk membuat pelaku pelanggaran sadar akan perbuatannya dan kembali pada perilaku yang sesuai dengan nilai dan norma dalam masyarakat. Gosip kadang dipakai sebagai alat untuk mengangkat popularitas seseorang, misalnya artis, pejabat, dsb.
2.Kekerasan Fisik, dilakukan sebagai alternatif terakhir dari pengendalian sosial, apabila alternatif lain sudah tidak dapat dilakukan. Namun banyak kejadian, perlakuan ini terjadi tanpa melakukan bentuk pengendalian sosial lain terlebih dahulu. Contoh:
• Seorang bapak memukul anaknya karena membantah dan berani kepada orang tua.
• Rumah dukun santet dibakar.
• Petugas keamanan menembak perusuh tanpa tembakan peringatan terlebih dahulu.
3.Hukuman
(Punishment), adalah sanksi negatif yang diberikan kepada pelaku pelanggaran tertulis maupun tidak tertulis. Pada lembaga formal diberikan oleh Pengadilan, pada lembaga non formal oleh Lembaga Adat.
4.Intimidasi, yaitu berhubungan dengan segala hal yang membuat pelaku menjadi takut sehingga ia mengakui perbuatannya. Intimidasi biasanya berupa ancaman, misalnya: penetapan hukuman mati
bagi pengedar narkoba merupakan ancaman agar tidak ada lagi yang berani mengedarkan narkoba.
5.Ostratisme, yaitu pengendalian dengan cara pengucilan. Hal ini dilakukan agar orang menyadari perbuatannya sehingga ia bisa berbaur kembali dengan orang lain. Misalnya, anak yang sombong dikucilkan dan dijauhi oleh teman-temannya.
F. FUNGSI PENGENDALIAN SOSIAL
Kalian sudah mempelajari dan memahami uraian tentang pengendalian sosial, dan ternyata pada hakikatnya ada dua fungsi pengendalian sosial, yaitu:
1. Meyakinkan masyarakat tentang kebaikan norma.
Usaha ini ditempuh melalui pendidikan baik formal maupun non formal. Melalui pendidikan formal ditanamkan kepada peserta didik kesadaran untuk patuh aturan, sadar hukum dan sebagainya melalui mata pelajaran-mata pelajaran yang ada. Melalui pendidikan non formal, mass media dan alat-alat komunikasi menyadarkan warga masyarakat untuk beretika baik, tertib lalu lintas, dan sebagainya.
2. Mempertebal kebaikan norma.
Hal ini dilakukan dengan cara mempengaruhi alam pikiran seseorang dengan legenda, hikayat-hikayat, cerita-cerita rakyat maupun cerita-cerita agama yang memiliki nilai-nilai terpuji, contohnya cerita Malin Kundang, cerita Nabi Sulaiman, dan sebagainya.
(SOCIAL CONTROL)
Akhir-akhir ini sering kita membaca, mendengar dan melihat banyak terjadi kasus penyimpangan di masyarakat. Pembunuhan, mutilasi, pemerkosaan, penipuan, narkoba dan sebagainya, selalu menjadi berita utama di media massa. Masyarakat semakin dibuat resah dengan berbagai peristiwa tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan, baik secara preventif maupun represif, untuk mengendalikan berbagai penyimpangan yang terjadi di masyarakat.
Berbagai analisa bergulir terhadap terjadinya sebuah kasus, tetapi terkadang tindakan solutif dan preventif tidak terealisasi. Artinya, penyimpangan sosial tetap menjadi tontonan dan momok bagi masyarakat. Timbul pertanyaan, mengapa banyak terjadi penyimpangan sosial?
Bisakah terbentuk sebuah masyarakat tanpa penyimpangan?
Upaya untuk mengantisipasi dan memberikan solusi terhadap penyimpangan sosial dikenal dengan pengendalian sosial (social control).
Pengendalian sosial merupakan sebuah proses yang direncanakan atau tidak direncanakan dengan tujuan mengajak, membimbing, bahkan memaksa masyarakat agar mematuhi nilai-nilai atau aturan-aturan yang berlaku, atau dengan kata lain pengendalian sosial merupakan tindakan pengawasan terhadap perilaku anggota masyarakat agar tidak melakukan penyimpangan.
Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa lepas dari orang lain. Interkasi sosial merupakan bentuk dari hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Dalam berinteraksi tersebut tidak jarang timbul masalah, misalnya terjadi beda pendapat, salah paham, berselisih dam kemudian berkelahi.
Adu fisik terkadang dianggap sebagai alternatif penyelesaian masalah, padahal kenyataannya justru menambah masalah baru. Benar tidak ? Pernahkah kalian berbuat seperti itu? Bagaimana sikap kita jika timbul masalah dengan orang lain? Tentunya kita semua berharap masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan akan kembali pada situasi dan kondisi semula, sehingga akan terwujud suatu keseimbangan sosial (social equilibrium).
Hal penting yang perlu diperhatikan, bahhwa untuk menciptakan keseimbangan sosial tersebut diperlukan upaya-upaya menghilangkan penyimpangan-penyimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Perhatikan gambar berikut ini. Gambar disamping adalah pihak keamanan atau kepolisian yang merupakan salah satu agen dalam pengendalian sosial, dimana kepolisian memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menghilangkan berbagai bentuk penyimpangan di masyarakat dengan tujuan terciptanya keamanan dan ketertiban dalam masyarakat.
A. DEFINISI PENGENDALIAN SOSIAL
Social control
atau pengendalian sosial adalah sesuatu yang nyata dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk upaya untuk menciptakan kondisi yang mereka inginkan. Ada beberapa pendapat tentang definisi pengendalian sosial, antara lain:
Astrid S. Susanto mengemukakan, bahwa pengendalian sosial adalah kontrol yang bersifat psikologis dan nonfisik karena merupakan “tekanan mental” terhadap individu sehingga individu akan bersikap dan bertindak sesuai dengan penilaian dalam kelompok tersebut.
Joseph Roucek mengemukakan bahwa pengendalian sosial merupakan segala proses, baik yang direncanakan maupun tidak direncanakan yang bersifat mendidik, mengajak, atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi kaidah/norma/aturan yang berlaku di masyarakat.
Menurut Berger, pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkananggotanya yang membangkang.
Karel Veeger
mendefinisikan pengendalian sosial sebagai kelanjutan dari proses sosialisasi dan berhubungan dengan cara-cara dan metode-metode yang dipergunakan untuk mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan kehendak kelompok atau masyarakat, yang jika dijalankan secara efektif, perilaku individu akan konsisten dengan tipe perilaku yang diharapkan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa upaya untuk mewujudkan kondisi seimbang didalam masyarakat disebut pengendalian sosial (Social Control).
Menurut Koentjaraningrat
, ada tiga proses sosial yang perlu mendapat pengendalian sosial, yaitu:1.Ketegangan sosial yang terjadi antara adat-istiadat dan kepentingan individu.2.Ketegangan sosial yang terjadi karena adanya pertemuan antar golongan khusus.3.Ketegangan sosial yang terjadi karena golongan yang melakukan penyimpangan secara sengaja menentang tata kelakuan atau peraturan.
B. JENIS PENGENDALIAN SOSIAL
Siapa saja yang terlibat dalam pengendalian sosial? Berdasarkan pihak yang melakukan pengendalian soaial, jenis-jenis pengendalian sosial terdiri dari:
1.Pengendalian individu terhadap individu lain.
Hal ini terjadi jika individu melakukan pengawasan terhadap individu lain, baik disadari maupun tidak. Contohnya:Guru yang menasehati muridnya yang berbuat kesalahan Amir menyuruh adiknya agar berhenti berteriak-teriak. Tono mengawasi adiknya agar tidak berkelahi.
2.Pengawasan individu dengan kelompok.
Guru mengawasi ujian di kelas. Polisi mengatur lalu lintas. Bapak memerintah anak-anaknya untuk segera belajar dari pada ribut terus.Dari contoh di atas guru, polisi, dan bapak sebagai individu yang melakukan pengendalian sosial terhadap kelompok individu, yaitu murid, pengguna jalan dan anak-anak.
3.Pengawasan kelompok dengan individu.
Bapak dan Ibu Nabil selalu mengontrol perilaku anak tunggalnya. Kawanan massa menghajar seorang pencopet. Tim gabungan polisi yang menangkap seorang pengedar narkobaDari contoh di atas Bapak dan Ibu, kawanan massa , dan tim gabungan polisi merupakan kelompok pengendali sosial terhadap seorang individu, yaitu anak tunggal, seorang pencopet, dan pengedar narkoba.
4.Pengawasan antar kelompok.
Contoh: Pengawasan oleh KPK kepada DPRDua perusahaan yang melakukan joint venture (patungan) selalu melakukan saling pengawasan. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memeriksa Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Dua atau lebih negara berkembang bergabung dalam pengawasan peredaran obat-obatan terlarang. Dari contoh di atas, KPK, kelompok orang dalam perusahaan, BPK dan Negara yang mengawasi atau sebagai pengendali sosial kelompok lain yaitu DPR, perusahaan, Depdiknas dan negara berkembang.
C. SIFAT PENGENDALIAN SOSIAL
Bagaimana masyarakat melakukan pengendalian sosial terhadap perilaku anggotanya? Ada dua sifat yang dipakai dalam pengendalian sosial, yaitu :
1.Preventif: yaitu pengendalian sosial yang dilakukan sebelum terjadi pelanggaran
, artinya mementingkan pada pencegahan agar tidak terjadi pelanggaran. Contoh: Seoarang bapak menasehati anaknya agar tidak merokok Untuk mencegah anaknya berkelahi Ibu Amir menyuruh anak-anaknya tidak bermain di luar rumah. Tidak bosan-bosannya guru menasehati murid-muridnya untuk segera pulang dan tidak nongkrong-nongkrong dulu di jalanan; untuk menghindari terjadinya tawuran pelajar, merokok atau terlibat narkoba.
2.Represif: adalah pengendalian sosial yang dilakukan setelah orang melakukan suatu tindakan penyimpangan (deviasi). Pengendalian sosial ini bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti sebelum terjadinya tindakan penyimpangan.Contoh pengendalian represif yang betul, misalnya : Pemberian hukuman bagi seseorang yang melakukan pelanggaranHakim menjatuhkan hukuman kepada terpidana. Pak Darmawan di PHK karena korupsi.
D. TEKNIK PENGENDALIAN SOSIAL
Kita sering mendengar, membaca dan melihat banyaknya penyimpangan yang terjadi di masyarakat. Terjadinya tawuran antara kelompok masyarakat yang kadang-kadang berbau SARA (Suku, Agama, Ras, Antar golongan), pembunuhan, perampokan, kasus narkoba dan lain-lain. Dengan berbagai peristiwa tersebut, apakah yang bisa kita lakukan? Bagaimana cara pengendalian sosial yang sebaiknya dilakukan kelompok masyarakat tersebut? Bagaimana cara Anda mengatasinya bila itu terjadi di lingkungan Anda? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan reflektif yang mengingatkan kita sebagai mahluk sosial.Bila dilihat dari segi cara pengendaliannya, dapat dikelompokkan dalam beberapa cara/teknik, yaitu:
a. Persuasif
Persuasif merupakan cara pengendalian tanpa kekerasan. Cara pengendalian lebih menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing anggota masyarakat agar dapat bertindak sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku di masyarakat, terkesan halus dan berupa ajakan atau himbauan. Contoh:
1. Tokoh masyarakat membina warganya yang bertikai agar selalu hidup rukun, menghargai sesama, mentaati peraturan, dan menjaga etika pergaulan..
2.Seorang ibu dengan penuh kasih sayang menasehati anaknya yang ketahuan mencuri. Ibu itu berusaha memberi pengertian pada anaknya bahwa mencuri itu perbuatan yang tercela dosa dan sangat merugikan orang lain. Mencuri itu akan berakibat buruk pada kehidupannya kelak. Ia akan menjadi orang terkucil dan tersingkir dari masyarakat.
3. Guru membina dan menasehati muridnya yang ketahuan merokok di sekolah. Dengan penuh kewibawaan dan kesabaran guru tersebut menanamkan pengertian bahwa merokok itu merusak kesehatan, merugikan orang lain, dan juga merupakan pemborosan.
b. Koersif
Cara koersif lebih menekankan pada tindakan atau ancaman yang menggunakan
kekerasan fisik. Tujuan tindakan ini agar si pelaku jera dan tidak melakukan perbuatan buruknya lagi. Jadi terkesan kasar dan keras. Cara ini hendaknya merupakan upaya terakhir sesudah melakukan cara persuasif, contoh:
1. Massa menghajar perampas sepeda motor agar jera. Tindakan tersebut sebenarnya dilarang secara hukum, karena telah main hakim sendiri. Namun cara tersebut dilakukan masyarakat dengan maksud agar para perampas sepeda motor lainnya takut untuk berbuat serupa.
2. Penerapan hukuman mati bagi pelaku kejahatan. Hal ini dilakukan agar para pelaku kejahatan atau orang yang akan berniat jahat menjadi takut untuk melakukan tindak kejahatan.
3.Orang tua yang menjewer telinga anaknya yang nakal. Hal ini dilakukan dengan harapan anaknya tidak melakukan kesalahan lagi.
E. CARA DAN BENTUK PENGENDALIAN SOSIAL
Robert M.Z Lawang
mengemukakan beberapa cara dan bentuk pengendalian sosial yang biasanya dilakukan orang dalam suatu masyarakat untuk mengontrol perilaku orang lain yang menyimpang, antara lain:
1.Desas-desus (Gosip), yaitu “kabar burung” atau “kabar angin” yang kebenarannya sulit dipercaya. Namun dalam masyarakat pengendalian sosial ini sering terjadi. Gosip sebagai bentuk pengendalian sosial yang diyakini masyarakat mampu untuk membuat pelaku pelanggaran sadar akan perbuatannya dan kembali pada perilaku yang sesuai dengan nilai dan norma dalam masyarakat. Gosip kadang dipakai sebagai alat untuk mengangkat popularitas seseorang, misalnya artis, pejabat, dsb.
2.Kekerasan Fisik, dilakukan sebagai alternatif terakhir dari pengendalian sosial, apabila alternatif lain sudah tidak dapat dilakukan. Namun banyak kejadian, perlakuan ini terjadi tanpa melakukan bentuk pengendalian sosial lain terlebih dahulu. Contoh:
• Seorang bapak memukul anaknya karena membantah dan berani kepada orang tua.
• Rumah dukun santet dibakar.
• Petugas keamanan menembak perusuh tanpa tembakan peringatan terlebih dahulu.
3.Hukuman
(Punishment), adalah sanksi negatif yang diberikan kepada pelaku pelanggaran tertulis maupun tidak tertulis. Pada lembaga formal diberikan oleh Pengadilan, pada lembaga non formal oleh Lembaga Adat.
4.Intimidasi, yaitu berhubungan dengan segala hal yang membuat pelaku menjadi takut sehingga ia mengakui perbuatannya. Intimidasi biasanya berupa ancaman, misalnya: penetapan hukuman mati
bagi pengedar narkoba merupakan ancaman agar tidak ada lagi yang berani mengedarkan narkoba.
5.Ostratisme, yaitu pengendalian dengan cara pengucilan. Hal ini dilakukan agar orang menyadari perbuatannya sehingga ia bisa berbaur kembali dengan orang lain. Misalnya, anak yang sombong dikucilkan dan dijauhi oleh teman-temannya.
F. FUNGSI PENGENDALIAN SOSIAL
Kalian sudah mempelajari dan memahami uraian tentang pengendalian sosial, dan ternyata pada hakikatnya ada dua fungsi pengendalian sosial, yaitu:
1. Meyakinkan masyarakat tentang kebaikan norma.
Usaha ini ditempuh melalui pendidikan baik formal maupun non formal. Melalui pendidikan formal ditanamkan kepada peserta didik kesadaran untuk patuh aturan, sadar hukum dan sebagainya melalui mata pelajaran-mata pelajaran yang ada. Melalui pendidikan non formal, mass media dan alat-alat komunikasi menyadarkan warga masyarakat untuk beretika baik, tertib lalu lintas, dan sebagainya.
2. Mempertebal kebaikan norma.
Hal ini dilakukan dengan cara mempengaruhi alam pikiran seseorang dengan legenda, hikayat-hikayat, cerita-cerita rakyat maupun cerita-cerita agama yang memiliki nilai-nilai terpuji, contohnya cerita Malin Kundang, cerita Nabi Sulaiman, dan sebagainya.
Langganan:
Postingan (Atom)